IMG-LOGO
Sedang Hangat: Bupati Taput Tinjau Kesiapan 2 Posko Menuju Perbatasan Taput-Tapteng Peduli Ojol, Majelis Taklim DPC PDI Perjuangan Medan Gelar Aksi Berbagi Rosmanyah STP Arahkan Pasukan Pemburu Corona Ke Pulau Rakyat

Fakta-fakta Seputar Hand Sanitizer

Alternatif Terakhir Bila Tak Bisa Mengakses Sabun Dan Air Mengalir

Redaksi

Ilustrasi penggunaan hand sanitizer (sumber foto : usatoday)

Perjuangansumut.com – Selain masker, hand sanitizer adalah barang yang banyak diburu di tengah upaya masyarakat untuk turut mengantisipasi penyebaran virus corona. Selain mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, penggunaan hand sanitizer dipercaya mampu mereduksi potensi penularan virus Corona.

Meskipun begitu, tidak seluruhnya informasi yang beredar di masyarakat seputar hand sanitizer adalah benar. Berikut ini, kami rangkum beberapa fakta seputar cairan yang mengandung ethyl alcohol (biasa disebut dengan ethanol), isopropyl alcohol (isopropanol), atau benzalkonium chloride sebagai bahan utamanya tersebut.

  1. Mengutip kompas.com, Hand sanitizer diciptakan pada 1966 oleh seorang siswa keperawatan asal California, AS, bernama Lupe Hernandez. Ia menemukan bahwa alkohol bisa dijadikan bentuk gel. Pada tahun 1988, hand sanitizer mulai dikomersialkan oleh beberapa perusahaan antara lain Purell dan Gojo. Rumah sakit dan tempat-tempat umum lain mulai menggunakan produk tersebut. Di tahun 2000-an, beberapa perusahaan mulai membuat hand sanitizer yang dicampur dengan pelembap seperti glycerin, dan beberapa diantaranya menambahkan parfum untuk pewangi.

 

  1. Bahan utama hand sanitizer adalah alkohol. Alkohol terdiri dari molekul yang terbuat dari karbon, oksigen, dan hidrogen. Konsentrasi alkohol pada hand sanitizer dimulai dari 30 persen. Dalam kasus Covid-19, World Health Organization (WHO) menyarankan masyarakat untuk menggunakan hand sanitizer dengan konsentrasi alkohol 60 persen. Ethanol adalah bahan kimia yang biasa didapatkan pada minuman beralkohol. Sementara propanol dan isopropanol (isopropyl alcohol) adalah dua jenis alkohol yang biasa ditemukan pada disinfektan.

 

  1. Hand sanitizer bekerja dengan cara membunuh bakteri penyebab penyakit, atau patogen, dengan menghancurkan protein pada bakteri tersebut. Hand sanitizer menghancurkan metabolisme bakteri patogen. Semakin besar kadar alkohol, semakin besar pula kemungkinannya membunuh bakteri patogen. Namun, efektivitas alkohol dalam membunuh bakteri patogen berhenti pada kadar 90-95 persen. Hal ini berdasarkan pada Jurnal Clinical Microbiology Reviews yang juga menyebutkan bahwa ethanol sangat kuat dalam membunuh bakteri. Dan dalam konsentrasi tinggi, ethanol bisa membunuh tiga jenis bakteri penyebab penyakit, yaitu Escherichia coli, Serratia marcescens, dan Staphylococcus saprophyticus.

 

  1. Hand sanitizer tidak bisa membunuh semua jenis bakteri. Hand sanitizer tidak cukup ampuh dalam membunuh norovirus, Clostridium difficile yang menyebabkan diare akut, atau Cryptosporidium yang menyebabkan penyakit cryptosporidiosis. Hand sanitizer juga tidak ampuh dalam menghilangkan zat kimia seperti pestisida atau logam berat. Hand sanitizer tidak efektif saat digunakan pada tangan yang sangat kotor atau berminyak. Sehingga, mencuci tangan dengan sabun tetap harus dilakukan.

 

 

  1. Hand sanitizer sebetulnya tidak memiliki tanggal kedaluwarsa. Namun, FDA mengharuskan produsen hand sanitizer untuk mencantumkan tanggal kedaluwarsa pada produknya. Alkohol merupakan zat kimia yang bersifat stabil apabila disimpan di suhu ruangan, jauh dari sinar matahari langsung. Jika Anda menyimpannya seperti itu, maka alkohol termasuk hand sanitizer bisa bertahan dalam waktu yang sangat lama.

 

  1. Akhir-akhir ini beredar tutorial tentang bagaimana cara membuat hand sanitizer buatan sendiri (hand sanitizer handmade) akibat banyaknya permintaan dan melambungnya harga hand sanitizer. Namun para ahli menyatakan, hand sanitizer handmade tak efektif membunuh kuman, bakteri, dan virus. Sebab ada jumlah minimum alkohol yang diperlukan agar bisa efektif.

 

  1. Dokter Natasha Bagdasarian, seorang konsultan yang bekerja Divisi Penyakit Menular National University Hospital juga mengatakan bahwa minyak esensial yang ditambahkan dalam cairan hand sanitizer tidak bisa memberi perlindungan yang andal terhadap virus. Selain itu, alkohol dengan kadar 60 sampai 90 persen dapat merusak kulit manusia.

 

  1. Penggunaan hand sanitizer yang berlebihan justru meningkatkan risiko infeksi COVID-19. Sebab disinfektan berbasis alkohol bisa menghilangkan air dan minyak alami yang membuat permukaan kulit kering. Permukaan kulit kering bisa meningkatkan risiko virus masuk ke dalam tubuh.

 

  1. Hand sanitizer dapat bekerja dengan baik di pengaturan klinikal, seperti rumah sakit, di mana tangan biasanya tak kontak dengan kotoran terlihat. Hand sanitizer jadi kurang efektif bila tangan terlihat sangat kotor, misal noda setelah berkebun, bermain olahraga tertentu, dan sisa menyiapkan makanan.

 

  1. Obat kumur memang mengandung agen antimikroba termasuk chlorhexdine gluconate dan triclosan. Namun, obat kumur tidak dianjurkan sebagai pengganti hand sanitizer, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun.

 

  1. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS mencatat, air dan sabun jauh lebih efektif dibanding hand sanitizer. Saat menggunakan hand sanitizer, orang mungkin tidak mengeluarkan cairan dalam jumlah yang cukup besar dan kebiasaan menyeka sebelum kering juga berpengaruh. Sabun apa pun bisa digunakan.

 

  1. Hand sanitizer adalah alternatif terakhir bila tak bisa mengakses sabun dan air mengalir untuk membersihkan tangan. Menurut beberapa studi yang dirangkum Pusat Kontrol dan Pencegahan Wabah Amerika Serikat, mencuci tangan masih terbukti lebih efektif mencegah infeksi corona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan, cuci tangan menggunakan sabun selama 20 detik adalah alternatif yang paling baik untuk membersihkan tangan dari kuman termasuk virus.

 

  • Tinggalkan Komentar