IMG-LOGO
Sedang Hangat: Bupati Taput dan Forkopimda Lepas Tim Penyemprotan Disinfektan Massal Ust, Syarul Siregar : Gubsu Bisanya Cuma Marah Tapi tidak punya inisiatif Atasi Covid-19 Bupati Taput Kembali Bagikan 3.000 Masker untuk Bantu Masyarakat

Meinarty Bangun Yang Menolak Lelah

Oleh : Nezar Silabuhan (Kepala Biro Rekrutmen BSPN Daerah PDI Perjuangan Sumut)

Redaksi

Meinarty Bangun saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Perempuan dan Anak DPD PDI Perjuangan Sumut

Bunda Mei begitulah orang memanggilnya, politisi PDI Perjuangan Sumut yang sudah cukup matang dan berpengalaman melewati pasang surut dan naik turunnya PDI perjuangan dalam Kancah politik Nasional dan Daerah, meski usianya menginjak senja tapi dirinya tak pernah surut untuk selalu aktif dalam setiap kegiatan partai baik di dalam kota maupun di luar kota bahkan di ivent nasional dirinya selalu hadir.

Bunda Mei yang Lahir pada Tahun 1957 mengawali kiprahnya dengan bergabung di Organisasi Sayap Banteng Muda Indonesia (BMI), kemudian Aktif di Kepengurusan PAC PDI Perjuangan Kecamatan Medan Baru, dan pada Tahun 2010 Bunda Mei memantapkan Karir politiknya dengan menjadi Bendahara DPD PDI Perjuangan Sumut, Setelah itu  pada Tahun 2015 hingga sekarang beliau dipercaya untuk menduduki Jabatan sebagai Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Sumut dan tentu catatan tersebut menjadi bukti nyata kiprahnya tak bisa diaggap kaleng-kaleng atau sebelah mata.

Bunda Mei Saat melakukan peletakan batu Pertama pembangunan Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten  Tapanuli Utara

Dalam satu perjalanan menuju Kabupaten Padang Lawas Utara dalam rangka mengahadiri Rakercab I 2020 DPC PDI perjuangan Kabupaten Paluta Bunda Mei sempat menyelutuk "Saya Banteng Tua" celetukan becanda yang menurutku adalah tamparan bagi kader PDI perjuangan yang selalu mengeluh lelah dan capek dalam menjalankan Progam partai padahal dari sisi usia seharusnya bunda Mei yang mengeluh bukan Kami.

Malam itu bagiku malam yang sangat panjang berpikir semua rumus fisika dalam kajian energi dan kajian biologi, energi apa yang ada dalam tubuh bunda sehingga memiliki kekuatan lebih bahkan mental yang tak surut sedikitpun mengarungi liku-liku dunia politik yang sering tidak stabil, tapi dirinya seperti tidak terpengaruh oleh iklim politik yang tidak menentu tersebut.

penasaranku tak cukup jika aku pendam maka aku coba memberanikan diri untuk bertanya mengapa beliau sekuat itu, tiba waktunya sarapan pagi aku sempatkan bertanya "bun kenapa bunda kuat" mungkin cuma itu pertanyaan yang menurutku penting ketimbang aku bertanya jamu atau obat apa yang beliau konsumsi atau berapa asupan gizi yang dia Konsumsi setiap hari.

Bunda Mei Saat Memimpin Rakercab I DPC PDI Perjuangan Padang Lawas 

Dirinya cuma menjawab dengan senyum khas yang semua orang pasti mengingat senyum tersebut "Bunda memiliki Cinta yang cukup untuk Partai ini", cuma itu dan memang cuma itu Jawabannya simple Lugas dan jelas tapi penuh makna yang dalam, sangat sulit bagiku memahami kedalaman kalimat tersebut seperti sulitnya memahami definisi cinta itu sendiri.

pada saat aku hanya memahami naluri keibuan seorang wanita, ya dia seorang wanita dengan naluri mencintai meski mengorbankan banyak hal bagi wanita matang seperti beliau, dedikasi adalah implementasi terhadap cinta itu sendiri dan cinta itu mejadi energi yang luar biasa dan tidak terbatas untuk melakukan banyak hal dan bagiku cinta itu cukup buat beliau untuk tetap energik meski diusia menjelang senja.

Cinta memiliki Jalannya Sendiri dan Caranya sendiri untuk menguatkan seseorang baik fisik maupun mental, aku melihat sendiri ketenangan seorang Meinarty Bangun dalam menghadapi rewelnya kader diakar rumput yang kadang melampui batas etika ketika menyampaikan protes di forum, tapi dengan kekuatan mental yang cukup matang beliau dengan santai menenangkan setiap emosi dan meredakan amarah, ya dia bertindak dengan psikologi seorang ibu yang memiliki sikap mengayomi bagi anak-anaknya yang kadang emosi dan ngambek.

Satu sesi Bunda Mei bersama penulis dan Samulya Surya Indra, Hendra Situmorang dan Novita Hutagaol berkunjung ke Candi Bahal Portibi disela-sela kesibukan Beliau

Dia bukan hanya tampil dengan keanggunan seorang ibu tapi dia juga tampil sebagai sebagai the real leader, dengan ketegasan dalam mengambil sikap tentu menjadi bangunan kepemimpinan tersendiri terlebih cara mendengarnya yang menurutku sangat baik, sehingga setiap langkah politiknya terlihat terstruktur dengan sempurna, dengan jenjang progam yang terukur dan terencana.

Selain itu kedisiplinan yang kuat membuat beliau memiliki Ciri khas sendiri dalam mengontrol setiap Progam Partai, beliau selalu hadir dalam setiap event Partai meski event tersebut kadang kurang menarik bagi kebanyakan orang, bagi beliau semua progam Partai bukan soal menarik atau tidak tapi soal bagaimana membangun komitmen selalu bekerja untuk partai meski dengan progam yang tidak populis.

Meinarty Bangun akan selalu menjadi inspirasi bagi kader muda seperti saya untuk selalu mengambil keteladanan terutama soal bagaimana bersabar dalam menghadapi situasi turun naik Iklim politik, dan bagaimana menghadapi situasi yang kadang membuat otak kita Turbalance oleh singgungan situasi yang tidak kita inginkan.

  • 1 Komentar

    1. Saya mengenal beliau dengan sebutan mama butet.. Beliau ibu angkat saya selama beliau tinggal dipalembang dulu sebelum balik kekampung halamannya dimedan.. Semangattt maaaa yang tua yang berkaryaaa.. Salam dari anak dan cucu mama dipalembang..sehat selalu ya ma ????

    Tinggalkan Komentar