IMG-LOGO
Sedang Hangat: Bobby - Aulia Lepas Relawan Kolaborasi Untuk Menggalang Pemilih Door To Door   Keren! H. Darma Wijaya Lakukan Panen Padi Perdana Di Lahan Baru Bekas Sarang Tikus BSPN Maksimalkan Fungsi Guraklih Partai Untuk Pilkada Kota Medan 2020.

Pasca Sabtu Kelabu, Simson dan Beberapa Aktivis Pro Demokrasi Medan Dijemput Paksa

Redaksi

Jakarta - Tragedi 27 Juli 1996 telah terlukis abadi di ingatan para kader PDI Perjuangan, khususnya yang mengalami langsung peristiwa tersebut.

Simson Simanjuntak, adalah salah satu kader PDI Perjuangan yang turut serta dalam pergulatan tragedi berdarah di era Rezim Soeharto tersebut.

Pada sore hari, tanggal 27 Juli 1996,  adalah hari ke-7 Simson dan kawan-kawan menggelar aksi mogok makan di halaman luar pagar kampus Universitas Katolik Santo Thomas Medan. Mogok makan itu merupakan wujud  protes Simson dan kawan-kawan terhadap campur tangan Rezim Militer Soeharto dalam persoalan internal PDI melalui Kongres PDI Pro Soerjadi di Medan.

"Setelah genap seminggu aku dan beberapa kawan aktivis GMNI menggelar aksi mogok makan, sorenya kami terpaksa menghentikan aksi itu begitu mendengar bahwa di Jakarta telah terjadi kerusuhan massa, buntut dari penyerangan kantor PDI Pro Mega Jalan Dipenogoro 58 Jakarta oleh kubu Soerjadi," ungkap Simson.

Simson, yang juga Pimpinan Dewan Pengurus Nasional Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) ini melanjutkan sebenarnya sejak pagi hari di tanggal 27 Juli itu, dirinya dan kawan-kawan telah mendapat kabar dari kawan-kawan PDI Pro Mega bahwa telah terjadi penyerangan terhadap markas PDI Pro Mega yang dilakukan oleh massa kubu Soerjadi, dibantu oleh militer suruhan Soeharto. 

Namun, sore harinya, sebagai buntut dari penyerangan kantor PDI Pro Mega itu suasana semakin tidak kondusif.

"Kemudian kami mendapat informasi pula bahwa ABRI akan melakukan pembersihan dan penangkapan-penangkapan terhadap siapa saja yang terkait dengan PDI Pro Mega. Maka dengan berat hati  kami, peserta aksi mogok makan yang ada di Medan pada saat itu (kurang lebih 10 orang) 'terpaksa' menyudahi aksi dan menyingkir untuk sementara waktu dari kota Medan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan sambil memantau perkembangan Jakarta," papar Simson.

Dan, benar saja. Pasca kerusuhan 27 Juli di Jakarta itu, Rezim Militer Soeharto melakukan pengejaran dan penangkapan-penangkapan terhadap aktivis pro demokrasi, terutama kawan-kawan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sudjatmiko yang dianggap sebagai dalang kerusuhan 27 Juli itu.

Pengejaran dan penangkapan aktivis pro demokrasi pasca kerusuhan 27 Juli terus berlanjut.

"Hingga Kemudian 10 hari sesudahnya, aku dan beberapa aktivis pergerakan yang ada di Kota Medan 'dijemput' paksa dari kediaman kami masing-masing oleh intel ABRI (Bakostranasda), lalu ditahan di markas intel ABRI di jalan Gaperta Medan selama 5 hari," ujar Simson.

  • Tinggalkan Komentar