IMG-LOGO
Sedang Hangat: Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut Terima R.APBD T.A 2021 Dengan Beberapa Catatan JAMAN Relawan Jokowi All out dukung Bobby-Aulia, Ini Alasanya Meryl : Saksi Harus Bisa Mendeteksi Sekecil Apapun Kecurangan Di TPS

Tujuh Puluh Dua Bidadari Untuk Jihadis NKRI Edisi Bulan Agustus Bulan Kemerdekaan Indonesia

Oleh : Ardi Husein  Hsb SE.I M.Si (Penulis kajian tokoh pemuda nasional dan riset kemenpora 2019)

Redaksi

Saat ini , Indonesia membutuhkan banyak jihadis. Yang dimaksud dengan jihadis adalah mereka yang bersungguh sungguh mengeluarkan seluruh daya dan kemampuannya untuk menjaga tegaknya NKRI. Jika pendahulu kita telah susah payah mendirikan negara ini, maka penerusnya juga wajib berletih lelah mempertahankan kemerdekaan ini.

Merujuk penjelasan dari Quraish Shihab, kata jihad berasal dari bahasa arab jahd yang bermakna kesulitan/kesukaran atau juhud ( kemampuan ) . Makna ini menujukan jihad bukanlah perkara yang mudah sebab mensyaratkan sang muhahid berhadapan dengan aneka  kesulitan dan kesukaran .

Mujahid pun dituntut tidak berhenti sebelum kemampuannya berakhir atau cita-citanya terpenuhi. Itulah sebabnya saat merebut kemerdekaan, para pejuang bangsa (muhajid) berteriak lantang “Merdeka atau Mati”(quraish shihab.com).

Janji Allah SWT terhadap para mujahid sungguh tidak mainmain. Allah menjanjikan banyak kemuliaan bagi mereka yang gugur di jalannya. Dalam hadist riwayat Tirmidzi, rasulullah bersabda “Orang-orang yang mati syahid mendapatkan enam keistimewaan dari Allah ;diampuni sejak awal darahnya tertumpah, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dijaga dari siksa kubur, diberikan keamanan.

Hadist ini biasanya dipelintir oleh kelompok radikal untuk membenarkan makna jihad yang sempit. Yaitu makna jihad yang sekedar berperang fisik membela agama Allah. Padahal jika kita konsisten merujuk pada pengertian sebelumnya, siapapun yang mati saat berjuang membela kebenaran, apapun aktivitasnya, maka layak men dapatkan beragam kemuliaan itu.

Apalagi banyak bidang kehidupan yang bisa dijadikan ladang untuk berjihad. Misalnya ada yang berjuang dengan pena (jihad bilqalam) seperti para wartawan dan penulis. Ada yang berjuang dengan perkataan (jihad bil lisan) seperti para guru dan pengajar saat menyampaikan pelajaran.

Ada yang berjuang dengan perbuatan (jihad bil amal) seperti tukang bangunan, pedagang, dsb. Artinya siapapapun berhak mendapat predikat mujahid dan jika meninggal berpotensi mendapat predikat syahid. dari ketakutan yang besar saat dibangkitkan dari kubur, diberikan mahkota kemuliaan yang lebih baik dari seisi dunia, dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari, dan mendapatkan hak untuk memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.”   Pemahaman yang benar terhadap jihad perlu disampaikan agar konsep ini tidak dimonopoli dan ditunggangi oleh kelompok terror untuk mencoreng agama Islam. Pelaku-pelaku teror dan bom bunuh diri tidak bisa dianggap mati syahid sebab perilakunya justru bertentangan dengan hakekat perdagmaian dalam Islam.

Pada saat Haji Wada', rasulullah berkata “Maukah kalian aku beritahukan tentang orang  Mukmin?Yaitu yang mengamankan harta-harta dan jiwa-jiwa manusia, seorang Muslim menjadikan manusia lain selamat dari lisan dan tangannya, seorang mujahid yaitu orang yang berjihad dalam ketaatan kepada Allah, dan seorang Muhajir yaitu yang meninggalkan kesalahan -kesalahan dan dosa” (HR.Ahmad).

Coba perhatikan hadist di atas, rasulullah memberi penekanan bahwa seorang Mukmin dan Muslim memiliki keterkaitan erat untuk berbuat baik terhadap sesama, Lalu dilanjutkan pernyataan bahwa mujahid adalah mereka yang patuh Setelah memahami hakekat jihad yang sebenarnya, maka seluruh warga negara Indonesia biasa menjadi mujahid untuk bangsanya.

Siapapun dia dan apapun profesinya. Seorang santri yang tekun belajar kitab gundul setiap hari hingga kurang tidur adalah mujahid. Mahasiswa yang mengkaji dengan serius ideologi Pancasila  dan mengamalkanya  secara konsisten adalah mujahid. Aktivis media sosial yang tanpa lelah menangkal hoak permusuhan demi persatuan bangsa adalah mujahid. Kaum muda yang melakukan dialog lintas iman untuk menjaga perdamaian adalah mujahid. Mereka ini, jika suatu saat meninggal saat melakukan aktivitas positif untuk bangsa, layak disebut syuhada dan mendapatkan ganjaran 72 bidadari di surga.terhadap perintah dan larangannya.

Maka merupakan kesalahan fatal jika ada yang mengaku sebagai mujahid tetapi kelakuannya menabrak aturan Allah. Perhatikan saja, jelas   jelas Allah melarang pembunuhan, tetapi masih ada yang membunuh dengan dalih perintah Allah. Sudah nyata Allah melaknat permusuhan, tetapi masih banyak yang gemar menyebarkan kebencian dengan alasan perintah Allah. Jenis orang/kelompok seperti inilah yang menjadikan citra Islam terus terpuruk. Mereka yang mengaku kaum beragama tetapi sifat dan perbuatannya jauh dari kesucian.

Merawat Persatuan Umat Melalui Mimbar Masjid

Madinah tempo dulu telah menjadi saksi bisu sejarah, berdirinya sebuah masjid yang kemudian dirobohkan oleh Rasulullah Saw. Dirobohkan, karena masjid tersebut dibangun bukan atas dasar niat baik, melainkan semata-mata sebagai sarana untuk memata-matai dan memecah belah masyarakat muslim Madinah, dengan dalih untuk menampung orang sakit. Pemrakarsanya, tak lain adalah orang-orang munafik yang tidak suka dengan perkembangan Islam, terlebih dengan berdirinya masjid Quba –yang dibangun atas dasar ketakwaan.

Masjid yang dibangun golongan munafik ini dikenal dengan nama Masjid Dhirar. Mengenai masjid ini, Al-Qur'an menjelaskan: Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang Mukmin) dan karena kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara orang orang Mukmin , serta menunggu / mengamati - amati kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu.” (QS. At-Taubah [9]:107).

M. Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa inisiator pendirian masjid Dhirar ini adalah seorang Ibnu 'Amr, sang pendeta. Ia menyuruh sekelompok munafik untuk mendirikan masjid tersebut, lalu memohon kepada Rasulullah Saw. untuk shalat di dalamnya. Permohonan tersebut disampaikan oleh orang munafik ketika Rasulullah Saw. hendak berangkat Perang Tabuk, dan beliau menyanggupi tapi menjanjikan setelah perang usai.

Ketika Rasulullah Saw. pulang dari Tabuk, Allah Swt. Mengabarkan siasat licik munafik untuk memecah belah umat, dengan menyuruh Rasul Saw. shalat di masjid tersebut. Atas dasar wahyu Allah Swt. inilah, Rasulullah Saw. kemudian menolak untuk beribadah di situ dan menyuruh para sahabat untuk merobohkannya. Ini adalah sejarah masjid di awal Islam. Bahwa ternyata ada sementara muslim (munafik) yang hendak merongrong kekuatan Islam dari dalam.

Mereka menyadari bahwa masjid merupakan tempat strategis untuk segala aktivitas umat, terutama berkaitan dengan pendidikan. Dengan memiliki basis perjuangan di masjid, orang-orang munafik kiranya mendamba akan dengan mudah memengaruhi umat Islam lainnya untuk berbalik memerangi Nabi.Mengingat posisi strategis dalam upaya edukasi masyarakat, maka merawat agar masjid tetap pada khitahnya amatlah perlu. Baiklah, kita berbaik sangka bahwa 41 masjid milik pemerintahan yang terindikasi terpapar radikalisme (berdasarkan rilis BIN dan P3M) semula dibangun atas dasar niat baik, yakni untuk memfasilitasi umat Islam dalam menjalankan kewajiban beribadah kepada Allah –sehingga, tidak termasuk kategori 'Masjid Dhirar'. Sementara untuk meningkatkan pemahaman keagamaan para jamaah, dilakukanlah kajian – kajian keagamaan, salah satunya dalam bentuk ceramah agama.

Dengan kata lain, keberadaan masjid di lingkungan kantor pemerintahan bisa dikatakan sebagai meningkatnya kesadaran masyarakat akan Islam. Mereka yang nota bene 'manusia sibuk', hanya memiliki waktu tidak lebih dari satu jam untuk melaksanakan ibadah shalat di masjid tersebut. Maka dari itu, praksis, bagi mereka yang tidak ada waktu untuk mempelajari agama secara mandiri di rumah atau lingkungan masyarakat, maka rentan untuk hanya mengandalkan materi ceramah yang disampaikan dai melalui mimbar masjid. Di sinilah, letak kerawanan jamaah terpapar radikalisme, jika pendakwah memiliki perspektif keagamaan yang intoleran. Maka dari itu, upaya membersihkan masjid dari narasi kebencian dan intoleran mendesak untuk segera dilakukan. Selain ada rencana dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang diketuan Jusuf Kalla untuk membikin kurikulum dakwah dan penilaiannya, segenap takmir masjid juga mesti mampu menyeleksi secara mandiri para dai yang hendak memberikan ceramah di mimbar masjid.

Salah satu indikator paling mudah untuk mengetahui apakah seseorang berpaham radikalisme-ekstrimisme ( garis keras ) , adalah dengan 'menginterogasi' terkait pandangan keagamaannya. Jika ia kerap mengutip ayat-ayat pedang dan memaknainya secara tekstual, bias dipastikan paham keagamaannyagaris keras. Individu semacam ini, cenderung alergi perbedaan dan menganggap apa yang diyakininya sebagai kebenaran tunggal–sementara  keliru dan wajib hukumnya untuk diluruskan. Membersihkan masjid dari dai intoleran, mengisinya dengan penceramah yang lebih mampu memberikan kesejukan umat.

Mereka yang mampu menyampaikan materi dengan sistematis, dan kalaupun memberikan analogi mudah dipahami jamaah. Di sampingitu, orientasi dakwahnya selalu mengarah pada persatuan umat dan upaya untuk menebar perdamaian di muka bumi. Enggan mengklaim diri sebagai yang paling benar, dan dalam waktu bersamaan juga menegaskan bahwa di hadapan Allah Swt manusia adalah sama, dan yang membedakan pada tingkat ketakwaannya. Dan, yang bias mengukur ketakwaan bukan kiai, dai, ustaz, ataupun pemuka agama yang dianggap mendalam ilmunya,melainkan hanya Allahlah yang mampu.

Dakwah yang menebarkan cintakasih semacam itu, dapat dipastikan akan mempererat jalinan persatuan dan kasih sayang antar umat beragama. Dan, dampaknya , kehidupan pun akan lebih harmonis sebagaimana cita cita Pendiri bangsa ini.

“wallahu a'lam bishawab”

  • Tinggalkan Komentar