IMG-LOGO
Sedang Hangat: BSPN Sumut Segera Laksanakan Rakor Dalam rangka Konsolidasi Menyongsong Pemilu 2024   Brigaldo Sinaga Wafat, Atas Nama PDI Perjuangan Sumut Dr. Sutarto Sampaikan Dukacita Rayakan Lebaran DImasa Pandemi, DPD PDI Perjuangan Sumut Gelar Halal Bihalal Virtual  

Hardiknas 2 Mei 2021, Momentum Dimulainya Pendidikan Berkebudayaan

Oleh : Lily D. Yuneldi (Ketua Bidang Seni Budaya dan Olahraga DPN Repdem)

Redaksi

"Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya" (Bung Karno).

Kalimat ini menohok untuk merefleksikan pendidikan di Indonesia. Mengapa? Mengurut sedikit ke belakang aksi terorisme yang dilakukan oleh Zakiah Aini, perempuan muda berusia 25 tahun di Mabes Polri. ZA adalah contoh pelaku terorisme sekaligus korban. Korban cuci otak yang dilakukan oleh terorism organizer, yang diambil dari kalangan muda yang sepatutnya mempunyai masa depan gemilang.

Kenapa ini bisa terjadi? Dimasa kini Bangsa Indonesia terus diinfiltrasi oleh nilai yang mati-matian mencabut Indonesia dari akarnya. Dari akar sejarah, akar budaya dan akar ideologi. Diganti dengan kebrutalan kapitalisme yang mengedepankan serba instan. Dibalut manipulasi dunia dalam manusia dan keyakinannya pada Tuhan : Agama! Agama dimanipulasi sedemikian rupa sehingga orang meninggalkan spiritual dalam berketuhanan menjadi formalisme semua. Cukup membuka internet tanpa guru, baca sebentar kemudian munculah orang sok tahu yang menjelaskan tanpa pernah memperdalam keilmuannya.

Kemudian membuat manipulasi - manipulasi sejarah dan budaya. Ujung-ujungnya : mencerabut ideologi bangsa. Membuat turbulensi-turbelensi kecil. Bahkan, apa yang terjadi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tempo hari menunjukkan langkah gerak sistematis untuk membuat kegaduhan. Untungnya, Dirjen Kebudayaan dengan sigap mengingatkan Menteri dan segera melakukan langkah preventif. Berkonsolidasi dengan lingkungan agamawan yang telah mengakar berabad-abad dan turun temurun dengan menyatukan akhlak, budaya dan toleransi. Beranjangsana ke tokoh-tokoh nasional. Diharapkan, Pak Menteri segera melakukan langkah tegas : membersihkan kementeriannya dari unsur yang tidak loyal pada ideologi negara.

Kita bisa belajar dari Jepang. Setelah kalah dalam Perang Dunia II, Kaisar Hirohito memerintahkan untuk menghitung guru yang tersisa. Kemudian membuat rancang bangun negara yang melahirkan teknokrat-teknokrat yang bangga sebagai orang Jepang. Alhasil, Jepang menjadi negara maju tanpa harus kehilangan jatidirinya. Hal ini juga dilakukan oleh Korea Selatan, Cina, Vietnam dan Thailand. Inilah pelajaran! Indonesia juga pasti mampu menjadi negara maju dengan berideologi Pancasila yang kuat.

Maka, sangat penting pendidikan kita fokus. Penanaman nilai kebangsaan dan ideologi Pancasila, sejarah serta budaya adalah mutlak dan wajib bagi seluruh siswa dari tingkat dasar. Indeks pengetahuan dan sikap ideologi ini menjadi syarat kenaikan. Adalah percuma kita seolah-olah maju tapi tidak mengenal jati diri kita sendiri. Bahkan sampai tidak tahu tata krama dan filosofi budaya sendiri. Sangat berbahaya! Bung Karno pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”.

Repdem mengusulkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar menyiapkan rancang bangun  pendidikan nasional yang berpijak pada ideologi Pancasila dan Kebudayaan. Sebagai contoh, hal yang juga sudah pernah dilakukan oleh walisanga pada jamannya. Kemudian semua itu digali oleh Bung Karno hingga lahirlah Pancasila 1 Juni 1945. Tidak ada salahnya berkoordinasi dengan BPIP agar kurikulum menjadi baku. Jika perlu, ditetapkan dalam Undang-Undang. Tidak sekedar keputusan Menteri karena ini menyangkut pedoman berbangsa dan bernegara. Jika semua itu terjadi, maka terjadilah apa yang dikatakan Bung Karno, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021.

  • Tinggalkan Komentar