IMG-LOGO
Sedang Hangat: BSPN Sumut Segera Laksanakan Rakor Dalam rangka Konsolidasi Menyongsong Pemilu 2024   Brigaldo Sinaga Wafat, Atas Nama PDI Perjuangan Sumut Dr. Sutarto Sampaikan Dukacita Rayakan Lebaran DImasa Pandemi, DPD PDI Perjuangan Sumut Gelar Halal Bihalal Virtual  

Megawati Soekarnoputri Puji Industri Kreatif Yang Jadi Penyangga Ekonomi Nasional

Redaksi

Jakarta - Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri memuji industri kreatif kini menjadi salah satu penyangga ekonomi nasional. Hal itu disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam acara pagelaran An Exotic Journey to Nusantara karya desainer Samuel Wattimena yang dilakukan secara virtual pada Sabtu (27/3/2021).

"Sektor ekonomi kreatif yang dahulu secara ekonomi memiliki arti kecil dan bersifat sampingan, sekarang telah berubah. Ekonomi kreatif menunjukkan potensinya menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh, dan mampu menjadi salah satu penyangga perekonomian nasional. Ekonomi kreatif adalah nilai yang tercipta dari suatu ide," kata Megawati.

Salah satunya industri fesyen yang kini terus berkembang. Sebagai bukti, berdasarkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bahwa sub sektor fesyen berkontribusi besar dalam PDB ekonomi kreatif Indonesia yang mencapai 41,4 persen. Lebih tinggi dari kuliner dan kriya yang berkontribusi di bawah 20 persen.

"Bagi saya, sama membahagiakannya saat mengetahui Indonesia merupakan negara ketiga, setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan, yang kontribusi ekonomi kreatifnya besar bagi perekonomian nasional," jelas Megawati.

Dia lantas mengingatkan, bahwa jika bicara fesyen Indonesia maka tentu berkaitan dengan wastra atau kain tradisional yang berkaitan dengan sejarah. Menurutnya, wastra nusantara setiap helai benang dan bubuhan motifnya adalah karya yang memiliki ciri khas, simbol, warna, ukuran, hingga material yang digunakan dari hulu hingga ke hilir dan dipengaruhi dipengaruhi kultur sosial masyarakat Indonesia, seperti sistem pengetahuan, budaya, lingkungan, kepercayaan, dan lambang strata sosial.

"Indonesia memiliki teknik wastra atau kain tradisional terlengkap di dunia, dan nenek moyang kita berhasil membuatnya menjadi identitas nusantara, seperti batik, songket, sulam, ikat, tapis, dan lainnya, banyak banyak lainnya," ungkap Megawati.

Ketua Umum PDI Perjuangan ini menyinggung salah satu fesyen yakni batik, yang perajinnya telah tumbuh subur di berbagai daerah. Menurutnya, dari tahun ke tahun batik selalu mengalami perkembangan.

Sekitar abad ke-17, motif batik didominasi bentuk hewan dan tanaman, yang kemudian berkembang pada motif menyerupai awan serta relief candi. Berkembangnya kesenian batik meluas di Indonesia setelah akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19.  Lalu pada akhir abad ke-19 muncul batik Saudagar di Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ciri batik saudagar mudah dikenali lewat ornamen klasik yang dimodifikasi sesuai selera.

Beberapa masa setelahnya, muncul desain batik khas kota-kota pesisir utara Jawa, termasuk Pekalongan, dan Cirebon. Desain tersebut menunjukkan pengaruh Cina melalui penggunaan warna-warna cerah, bunga, dan motif awan.

 "Sepanjang sejarahnya, perkembangan batik Indonesia dipengaruhi juga oleh para pedagang asing dan juga pendatang. Beberapa sumber menyebutkan batik Indonesia mencapai puncak kreativitasnya pada 1890 hingga 1910. Pada zaman tersebut telah muncul batik Belanda, batik Cina, atau batik Hokokai," kata Megawati.

Sekitar tahun 1955, Presiden Sukarno mendorong terciptanya gaya baru batik, yaitu Batik Indonesia. Bung Karno menginginkan batik yang menampilkan nilai seni budaya sebagai jati diri bangsa sekaligus menyuarakan pesan persatuan Indonesia.

Pada waktu itu, Ibu Sud, Go Tik Swan, seorang penari yang kemudian menjadi pengusaha batik di Surakarta diminta Bung Karno untuk membuat Batik Indonesia.

"Akhirnya ditemukanlah bahwa batik Indonesia adalah perpaduan batik klasik dan batik pasisiran, perpaduan batik klasik berwarna cokelat hitam dan kebiruan, sedang batik pasisiran yang kaya warna," papar Megawati.

Batik Indonesia dikembangkan menggunakan warna-warna cerah. Kemudian beberapa desain baru muncul, seperti cendrawasih, sruni, sandang pangan, udang. "Bung Karno menginginkan desain Batik Indonesia tersebut mencerminkan penggabungan rasa persatuan, nasionalisme dan romantisme, yang mampu mendukung proses nation building," tutur Megawati.

Akhirnya, Batik menjadi warisan budaya dunia milik Indonesia setelah ditetapkan oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. Bahkan, Pemerintah Indonesia pun menjadikan 2 Oktober sebagai hari Batik Nasional yang selalu diperingati setiap tahunnya.

Megawati menyadari arus global tidak terhindarkan. Namun, dengan karakter kuat sebagai bangsa, Indonesia dapat menjaga kebudayaan Nusantara, kebudayaan Indonesia.

"Seperti yang kita lihat saat ini, bagaimana kekayaan wastra Nusantara tidak kehilangan ciri khas dan karakternya. Meski dalam perjalanannya terpengaruh sentuhan budaya lain, justru itulah yang menambah kekayaan wastra Nusantara sebagai satu wadah percampuran kebudayaan dunia," kata Megawati dalam acara fesyen show virtual yang digelar Kedutaan Besar RI di Korea Selatan.

  • Tinggalkan Komentar